Empu Pitrang: Identitas Samaran Empu Supa Mandrangi dalam Legenda Keris Majapahit

pelestarianpusaka.com – Empu Pitrang merupakan sosok terkenal dalam tradisi dunia keris Jawa, tetapi uniknya nama ini bukanlah nama lahir seorang empu tersendiri. Menurut kisah-kisah perkerisan Jawa, Empu Pitrang adalah nama samaran yang dipakai oleh Empu Supa Mandrangi ketika berada di Kadipaten Blambangan pada akhir masa Kerajaan Majapahit.

Nama Empu Pitrang sangat dikenal melalui kisah pencarian pusaka kerajaan, penyamaran, serta kecakapan luar biasa dalam menempa keris yang nyaris mustahil dibedakan dari aslinya. Dalam dunia tosan aji, kisahnya dianggap sebagai simbol kecerdasan, ketelitian, dan kemahiran seorang empu besar Nusantara.


Asal

Empu Pitrang memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Blambangan, Jawa Timur, karena identitas tersebut digunakan ketika Supa Mandrangi berada di daerah tersebut.

Meski demikian, asal sebenarnya berasal dari lingkungan budaya Majapahit, pusat kerajaan besar Jawa Timur pada masa akhir kejayaannya.


Nama Asli

Nama asli Empu Pitrang adalah:

Empu Supa Mandrangi

Dalam perjalanan hidupnya ia juga dikenal dengan beberapa nama lain:

  • Empu Rambang
  • Empu Pitrang
  • Empu Pangeran Sedayu

Nama-nama tersebut muncul pada fase kehidupan yang berbeda menurut tradisi tutur para empu Jawa.


Lokasi Legendaris

Beberapa tempat yang sangat terkait dengan kisah Empu Pitrang:

1. Majapahit (Trowulan)

Tempat asal dan pusat kerajaan.

2. Kadipaten Blambangan

Lokasi penyamaran sebagai Empu Pitrang.

3. Sedayu

Wilayah yang kemudian dikaitkan dengan gelar Empu Pangeran Sedayu.

4. Jawa Timur

Menjadi pusat perjalanan dan kisah kehidupannya.


Masa / Era

Empu Pitrang diperkirakan hidup sekitar:

Akhir Majapahit, abad ke-14 hingga ke-15 Masehi

Masa ini merupakan era transisi politik besar menjelang runtuhnya Majapahit dan berkembangnya pengaruh kerajaan Islam di Jawa.


Latar Belakang

Menurut kisah empu Jawa kuno, Supa Mandrangi muda meninggalkan Majapahit untuk mencari pusaka kerajaan yang hilang.

Perjalanan tersebut membawanya ke wilayah timur Jawa hingga akhirnya sampai ke Blambangan.

Selama pengembaraan, ia menggunakan identitas baru:

  • Empu Rambang
  • Empu Pitrang

Penyamaran dilakukan agar identitasnya sebagai empu kerajaan tidak diketahui.


Kisah Empu Pitrang

Kisah paling terkenal berasal dari naskah tradisi Jawa yang menceritakan pencarian pusaka kerajaan Majapahit.

Setelah sampai di Blambangan, Empu Pitrang bertemu Adipati Menak Dadali Putih.

Kemampuannya menempa keris membuatnya diterima di lingkungan kadipaten.

Ia kemudian mendapat tugas yang hampir mustahil:

membuat duplikat pusaka kerajaan yang hilang.

Konon Empu Pitrang mampu membuat dua keris tiruan yang sangat sempurna hingga sulit dibedakan dari pusaka asli.

Setelah keberhasilannya:

  • pusaka berhasil ditemukan
  • ia menikah dengan putri Adipati
  • memperoleh kedudukan tinggi
  • kembali ke Majapahit

Karena jasanya, ia memperoleh gelar:

Empu Pangeran Sedayu


Makna dan Warisan Budaya

Kisah Empu Pitrang mengandung nilai budaya penting:

1. Kecerdikan

Kemampuan menyelesaikan masalah melalui kecakapan dan strategi.

2. Ketelitian

Karya empu harus sempurna hingga detail terkecil.

3. Kesetiaan

Pencarian pusaka dilakukan demi pengabdian pada kerajaan.

4. Spiritualitas

Pembuatan keris bukan sekadar keterampilan teknis.


Pengaruh dalam Seni dan Budaya

Nama Empu Pitrang berpengaruh pada:

1. Tradisi Tosan Aji

Menjadi simbol kemampuan empu tingkat tinggi.

2. Sastra Jawa

Masuk dalam berbagai serat dan kisah empu.

3. Dunia Perkerisan Modern

Namanya sering dijadikan referensi sejarah empu Majapahit.

4. Tradisi Lisan

Ceritanya masih diceritakan oleh komunitas pecinta keris.


Keris / Karya Empu Pitrang

Beberapa karya yang dikaitkan dengannya:

1. Duplikat Kanjeng Kyai Sumelang Gandring

Karya paling terkenal.

Konon dibuat dengan tingkat kemiripan luar biasa.

2. Keris Gaya Majapahit

Memiliki karakter:

  • garap halus
  • elegan
  • berwibawa
  • kaya nilai simbolik
3. Hubungan dengan Kyai Sengkelat

Dalam sejumlah kisah tradisional, perjalanan hidupnya juga berkaitan dengan pusaka Kyai Sengkelat.


Para Pemesan Keris

Tokoh yang berkaitan dengan karya Empu Pitrang:

1. Adipati Menak Dadali Putih

Tokoh Blambangan yang menerima jasanya.

2. Lingkungan Kerajaan Majapahit

Pusaka kerajaan dan kalangan bangsawan.

3. Ksatria dan pejabat kerajaan

Sebagai pemesan pusaka serta senjata kebesaran.


Keturunan

Empu Pitrang juga dikenal sebagai leluhur garis empu terkenal:

  • Empu Jaka Sura
  • Empu Jaka Supa (Supo Anom)

Keturunannya kemudian melahirkan generasi empu besar pada masa Pajang dan Mataram.


Penutup

Empu Pitrang merupakan salah satu tokoh paling unik dalam legenda perkerisan Jawa. Ia bukan hanya empu pembuat keris, tetapi simbol kecerdikan, penyamaran, pengabdian, dan kemahiran tingkat tinggi dalam dunia pusaka Nusantara. Kisahnya menunjukkan bahwa seorang empu Jawa tidak sekadar menempa logam, tetapi juga membentuk sejarah, budaya, dan warisan spiritual yang terus hidup hingga sekarang.

Scroll to Top